Namun, Pak Yes juga mengingatkan bahwa kondisi dunia saat ini diwarnai oleh ketidakpastian, seperti konflik dagang, inflasi pangan, dan potensi perubahan kebijakan ekonomi global.
Isu kenaikan tarif impor oleh Amerika Serikat berpotensi memicu efek domino, seperti meningkatnya biaya logistik dan gangguan rantai pasok, yang dapat berdampak negatif pada pelaku usaha di Lamongan.
Sebagai langkah untuk mengatasi tantangan ini, Pak Yes menekankan pentingnya membuka media komunikasi dan konsultasi antara perusahaan dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
Melalui Exportiva Season II, diharapkan dapat menjadi forum edukasi dan berbagi informasi mengenai ekspor, termasuk penyediaan konsultan dari Bea Cukai untuk membantu pelaku usaha memahami proses ekspor dan dokumen yang diperlukan.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lamongan, Anang Taufik, mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada seratus Industri Kecil Menengah (IKM) yang lolos kurasi untuk ekspor.
Ia juga menambahkan bahwa Expo Exportiva Season II akan mensosialisasikan program prioritas, sehingga masyarakat dapat melihat langsung potensi yang dimiliki Kabupaten Lamongan dan menarik minat investor.
Perusahaan dan UMKM yang melakukan ekspor pada hari ini antara lain PT Bumi Menara Internusa, PT Shoetown Mustika Indonesia, PT Quality Works, PT Citi Plumb, PT Buildyet, PT Tiga Berlian Anugrah Jaya, serta UMKM Koko Nono, Kirana, Soeart, Ansa, dan Paradila.
“Kegiatan ini diharapkan dapat membuka peluang baru bagi pelaku usaha di Lamongan untuk menjangkau pasar internasional,” ujar Anang.(Bs)






