BOJONEGORO, BeritaSiber.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro membuka peluang kerja sama dengan IKIP PGRI Bojonegoro dalam upaya mengatasi persoalan anak tidak sekolah (ATS). Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat pemerataan akses pendidikan sekaligus memberikan ruang pengabdian bagi lulusan perguruan tinggi untuk berkontribusi langsung kepada masyarakat.
Gagasan tersebut disampaikan Wakil Bupati Bojonegoro, Hj. Nurul Azizah, saat menghadiri Wisuda ke-46 IKIP PGRI Bojonegoro yang digelar di Hotel Dewarna Bojonegoro, Sabtu (10/10/2026).
Dalam sambutannya, Nurul Azizah menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga pendidikan tinggi untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan, khususnya dalam memastikan seluruh anak di Kabupaten Bojonegoro mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan.
Menurutnya, keberadaan IKIP PGRI Bojonegoro sebagai salah satu perguruan tinggi yang mencetak tenaga pendidik memiliki potensi besar untuk mendukung program pemerintah daerah, terutama dalam menangani anak-anak yang belum mendapatkan layanan pendidikan secara optimal.
Targetkan 2.805 Anak Kembali Mengakses Pendidikan
Nurul Azizah mengungkapkan, berdasarkan data yang disampaikannya, jumlah anak tidak sekolah di Kabupaten Bojonegoro mencapai 5.610 anak. Dari jumlah tersebut, Pemkab Bojonegoro menargetkan sebanyak 2.805 anak dapat kembali memperoleh akses pendidikan pada tahun 2026.
“Pemkab Bojonegoro masih punya target tahun ini ada dari total anak yang tidak sekolah, totalnya adalah 5.610 anak, dan target di tahun ini adalah 2.805 agar anak-anak ini bisa sekolah,” ujar Nurul Azizah.
Untuk mendukung pencapaian target tersebut, ia mengajak IKIP PGRI Bojonegoro berkolaborasi melalui skema program magang yang melibatkan para lulusan.
Melalui program tersebut, wisudawan dan wisudawati diharapkan dapat mengambil bagian dalam upaya pemerintah daerah menangani persoalan anak tidak sekolah. Namun, pelaksanaan program masih memerlukan pembahasan lebih lanjut, terutama terkait mekanisme kegiatan, pembagian tugas, serta dukungan yang dapat diberikan pemerintah daerah.
Nurul Azizah secara terbuka menyampaikan gagasan kerja sama itu kepada Rektor IKIP PGRI Bojonegoro, Dr. Junarti, M.Pd., beserta jajaran pimpinan kampus dan pihak yayasan.
“Kira-kira Pemkab bisa memberikan kontribusi, kalau yang namanya belajar, itu nanti honornya bagaimana, tugasnya apa, dibuatkan, biar nanti Bu Rektor dan Pak Ketua Yayasan nanti menandatangani sebagai kerja sama mengatasi anak tidak sekolah di Bojonegoro,” katanya.
Ia juga meminta agar pembahasan teknis dilakukan bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro sehingga program yang direncanakan memiliki arah, tugas, dan mekanisme pelaksanaan yang jelas.
Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi salah satu bentuk keterlibatan nyata perguruan tinggi dalam mendukung kebijakan pembangunan daerah, sekaligus membuka kesempatan bagi lulusan untuk mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama menempuh pendidikan.
IKIP PGRI Bojonegoro Telah Cetak Sekitar 25 Ribu Alumni
Pada kesempatan tersebut, Nurul Azizah turut memberikan apresiasi terhadap kontribusi IKIP PGRI Bojonegoro dalam memajukan dunia pendidikan.
Ia menyebut, hingga penyelenggaraan wisuda ke-46, perguruan tinggi tersebut telah meluluskan sekitar 25.000 alumni yang sebagian besar berkiprah di sektor pendidikan.
Capaian tersebut dinilai menunjukkan besarnya peran IKIP PGRI Bojonegoro dalam menyiapkan sumber daya manusia, terutama tenaga pendidik yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat.
Nurul Azizah juga mengenang sosok almarhum H. Samadun, pendiri IKIP PGRI Bojonegoro, yang dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat.





