Sementara itu, Rektor Unisla, Abd. Ghofur, menegaskan bahwa program KKN ini tidak hanya sekadar rutinitas tahunan, tetapi menjadi bagian dari visi strategis kampus dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di daerah. Tema HARVEST yang diangkat merupakan akronim dari pendekatan holistik dalam riset dan pengabdian masyarakat.
“Harvest itu berarti panen. Kata kuncinya adalah kembali kepada masyarakat. Kita mendorong konsep ‘holistic complete research’ di mana seluruh aktivitas mahasiswa diarahkan untuk memberikan kontribusi nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat,” jelas Ghofur.
Unisla sendiri menempatkan mahasiswa KKN di 21 desa yang tersebar di wilayah Lamongan. Selain itu, program KKN tahun ini juga mencakup KKN Tematik serta KKN Internasional, di mana 10 mahasiswa terpilih diberangkatkan ke Universitas Internasional INTI, Malaysia.
“KKN ini bukan sekadar pengabdian, tapi juga sarana mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu di lapangan. Khususnya di sektor pertanian, kami mendorong mahasiswa untuk menghadirkan sentuhan teknologi dan inovasi yang dibutuhkan masyarakat desa,” imbuh Ghofur.
Tak hanya sekadar pelepasan, Unisla juga mulai menata jejaring kerja sama strategis sebagai tindak lanjut dari program KKN ini. Sesuai arahan dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti), kampus dituntut untuk semakin berdampak dan berkontribusi aktif dalam pembangunan daerah.
“KKN kita harus berkesinambungan, tidak boleh berhenti di satu titik. Harus berkolaborasi dan bersinergi dengan program-program pembangunan pemerintah daerah, seperti Astacita,” pungkas Rektor.
Dengan semangat kolaborasi dan pengabdian, program KKN Unisla 2025 diharapkan mampu menjadi jembatan antara dunia akademik dan masyarakat, serta turut mendorong terciptanya SDM unggul dan desa yang mandiri.(Bs).





