MADIUN, BeritaSiber.com – Penguatan konektivitas wilayah dan pemerataan pembangunan menjadi sorotan Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, saat melaksanakan reses di Badan Koordinasi Wilayah Pemerintahan dan Pembangunan (Bakorwil) I Madiun, Senin (19/10/2026).

Dalam agenda tersebut, sejumlah isu strategis mengemuka, mulai dari pembebasan lahan Jalur Lintas Selatan (JLS), pengembangan kawasan Selingkar Wilis, hingga rencana perluasan layanan Bus Trans Jatim di Madiun Raya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Senator yang akrab disapa Ning Lia itu berdialog dengan Sekretaris Bakorwil I Madiun, Syamsul Hady, S.Sos., M.Si., beserta jajaran pejabat dari berbagai bidang. Hadir pula Ari Setyanto, A.P., M.Si., dari Bidang Pemerintahan; Cicilia Satyarini Yuliarsi, S.E., dari Bidang Pembangunan Ekonomi; Gatot Subroto, S.H., dari Bidang Kemasyarakatan; serta Budi Marjono, S.E., M.M., yang memimpin Bidang Sarana Prasarana.

Pertemuan tersebut juga dihadiri tokoh muda Madiun, Fajar, dan tokoh masyarakat Gus Mamang. Diskusi berlangsung dengan menitikberatkan pada kebutuhan pembangunan daerah serta pentingnya koordinasi lintas pemerintahan agar berbagai program prioritas dapat berjalan lebih efektif.

Salah satu aspirasi yang menjadi perhatian ialah kebutuhan dukungan anggaran dari pemerintah pusat untuk pembebasan lahan JLS. Keterbatasan kapasitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dinilai menjadi tantangan tersendiri dalam mempercepat penyelesaian tahapan pembangunan tersebut.

Ning Lia menilai, keberadaan JLS memiliki arti strategis bagi peningkatan aksesibilitas sekaligus pengembangan potensi ekonomi masyarakat di kawasan selatan Jawa Timur. Karena itu, persoalan pembebasan lahan perlu mendapat perhatian serius agar tidak menjadi penghambat pembangunan.

“JLS bukan hanya tentang pembangunan jalan, melainkan juga tentang membuka akses, memperlancar mobilitas, dan menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat. Ketika kemampuan APBD terbatas, dukungan pemerintah pusat perlu didorong agar proses pembebasan lahan dapat berjalan lebih optimal,” ujarnya.

Selain JLS, pengembangan Jalur Wilis dan kawasan Selingkar Wilis turut menjadi pembahasan. Penguatan konektivitas di kawasan tersebut dinilai penting untuk memperkecil kesenjangan pembangunan antara wilayah utara dengan kawasan tengah dan selatan Jawa Timur.

Menurut Ning Lia, pembangunan infrastruktur harus dirancang dengan perspektif pemerataan, sehingga manfaatnya tidak hanya terpusat di kawasan yang telah berkembang. Konektivitas yang semakin baik diharapkan dapat mendorong pergerakan masyarakat, memperluas akses terhadap layanan publik, serta mendukung pertumbuhan ekonomi antardaerah.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2