Berdasarkan hasil analisis cuaca, potensi hujan dengan durasi panjang diperkirakan dapat terjadi hingga delapan jam apabila tidak dilakukan intervensi.
“Sejak pukul 07.30 pagi tadi, kami sudah mulai melakukan operasi modifikasi cuaca. Sampai saat ini sudah dua kali penyemaian awan dilakukan sebagai bagian dari upaya pengendalian cuaca ekstrem,” jelas Pramono.
Menurutnya, hasil awal dari operasi tersebut menunjukkan dampak positif. Intensitas hujan yang diperkirakan tinggi dapat ditekan, sehingga kondisi cuaca relatif lebih terkendali dibandingkan prediksi awal.
“Kalau tidak dilakukan modifikasi cuaca, seharusnya hujan masih terjadi sampai siang. Tapi dengan intervensi ini, hujan bisa dikurangi,” ujarnya.
Pemprov DKI Jakarta memastikan bahwa OMC akan terus dilakukan secara situasional, menyesuaikan dengan perkembangan cuaca dan rekomendasi teknis dari BMKG.
Selain modifikasi cuaca, pemerintah daerah juga menyiagakan pompa air, petugas lapangan, serta memastikan kesiapan infrastruktur pengendali banjir.
Pramono menegaskan bahwa pengendalian cuaca ekstrem membutuhkan kerja sama lintas wilayah dan lintas lembaga. Dengan koordinasi yang kuat antara Pemprov DKI, BMKG, dan pemerintah daerah penyangga, diharapkan risiko banjir di Jakarta dapat diminimalkan.
“Ini adalah bagian dari ikhtiar pemerintah untuk melindungi warga Jakarta dari dampak cuaca ekstrem. Kami akan terus mengambil langkah antisipatif agar risiko banjir bisa ditekan semaksimal mungkin,” pungkasnya.





