Senada dengan PWI, Ketua IJTI Korda Pantura Raya, Moh. Mahrus, menegaskan bahwa aksi ini tidak sekadar bentuk kepedulian terhadap para jurnalis yang hilang, tetapi juga bentuk rangkulan moril bagi keluarga yang ditinggalkan di rumah.
Mahrus menyebut, ketidakpastian kondisi di lapangan tentu menjadi beban psikologis yang sangat berat bagi pihak keluarga.
“Intinya, doa bersama pada siang hari ini adalah aksi solidaritas kita, teman-teman jurnalis di Lamongan, baik PWI maupun IJTI, untuk men-support keluarga. Dalam artian, kami ingin menunjukkan bahwa keluarga tidak sendirian dan kami memberikan dukungan agar tetap sabar,” tutur Mahrus.
Meski menyadari situasi di sekitar kawah Gunung Anak Krakatau sangat berisiko, Mahrus dan rekan-rekan jurnalis lainnya tetap menyimpan asa agar kelima juru warta tersebut bisa kembali berkumpul bersama keluarga masing-masing. Namun, ia juga berpesan agar proses pencarian terus dioptimalkan apapun hasil yang akan ditemukan nanti.
“Kita tetap berharap teman-teman jurnalis yang saat ini hilang kontak itu bisa ditemukan dalam keadaan selamat. Apabila dalam perkembangan terburuk tidak ditemukan hidup, kami berharap jasadnya bisa ditemukan dan segera dipulangkan kepada pihak keluarga. Semoga keluarga senantiasa diberi kesabaran,” pungkasnya lirih.
Hingga berita ini diturunkan, insan pers di Lamongan terus memantau perkembangan informasi resmi dari tim evakuasi sambil melantunkan dukungan agar proses pencarian di kawasan selat Sunda tersebut berjalan aman dan membuahkan hasil secepatnya.





