Yuhronur mendorong para produsen untuk terus menyesuaikan diri dengan tren pasar tanpa kehilangan keaslian cita rasa.
“Agar wingko semakin digemari lintas generasi, pelaku usaha harus meningkatkan kualitas dan berinovasi. Misalnya wingko kering, wingko kriuk, hingga varian rasa kekinian, serta meningkatkan tampilan kemasan agar lebih modern dan menarik,” tambahnya.
Di sisi lain, Lurah Babat, Anom Priyambodo, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menginisiasi proses hak paten Wingko Babat sebagai bentuk perlindungan produk kuliner lokal.
“Kami telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk mematenkan nama Wingko Babat agar warisan budaya ini tetap terjaga,” jelasnya.
Melalui festival ini, Pemkab Lamongan berharap Wingko Babat tak hanya dipertahankan sebagai ikon kuliner legendaris daerah, tetapi mampu naik kelas menjadi produk unggulan yang berdaya saing tinggi di pasar nasional dan internasional.





