Untuk predikat cumlaude-nya, sambungnya menambahkan “masalah nilai sebenarnya bukan tujuan. Saya sekolah di sini lebih kepada untuk mencari keilmuan dari sudut agama, dimana saya mengikuti pemberdayaan perempuan. Kalau ngomongin pemberdayaan perempuan, yang benar-benar kita fokuskan adalah memberdayakan ekonominya,” jelasnya.
Jadi saya ingin mengulik lebih dalam lagi nilai-nilai keagamaan. Kalau ekonomi perempuan ini bertumbuh sisi agamanya seperti apa sebenarnya. Karena kita tahu perempuan sering kali di anggap masyarakat kelas 2 untuk stigma sosialnya.
Ternyata dalam Islam setelah kita pelajari didalam perkuliahan saya di S2 ini, anggapan itu ternyata salah besar. Perempuan dan laki-laki itu yang membedakan hanyalah jenis kelaminnya. Namun secara gender mereka punya peran yang sama dan dituntut oleh Allah SWT untuk berkontribusi seimbang dengan prinsip keseimbangan untuk membangun keluarga dan perekonomian di lingkup keluarga. Kemudian perempuan juga dituntut mengembangkan perekonomian di tingkat daerah dan Indonesia.
Mendampingi istri saat diwisuda beserta ketiga anaknya, Mochamad Nur Arifin tidak bisa menutupi rasa bangganya. Istrinya juga meraih kesuksesan di sektor pendidikan. Pihaknya berharap capaian ini bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat.
“Kita cukup bersyukur dan semoga ilmunya manfaat. Sama sama ilmunya kita gunakan untuk mensejahterakan masyarakat,” tutupnya.
Dalam wisuda ke-35 Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Hidayatullah ini juga turut diwisuda secara bersamaan, Wakil Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo dalam gelar yang sama magister.






