LAMONGAN, BeritaSiber.com – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (P3AKB) Kabupaten Lamongan melalui UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) melakukan asesmen dan pendampingan psikologis terhadap seorang anak yang terlibat dalam persoalan di salah satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kecamatan Glagah.
Pendampingan dilakukan untuk membantu memulihkan kondisi psikologis anak setelah peristiwa tersebut menjadi perhatian publik.
Pendampingan berlangsung di Ruang Konseling UPTD PPA Lamongan pada Kamis (22/10/2026), pukul 09.00 hingga 10.30 WIB. Kegiatan tersebut melibatkan psikolog pendamping Irawati Sudari, S.Psi., Kepala UPTD PPA Lamongan Abi Fitriansyah, staf UPTD PPA Ninik Arnani, serta ibu kandung anak.
Kepala Dinas P3AKB melalui Kepala UPTD PPA Dinas P3AKB Kabupaten Lamongan, Abi Fitriansyah, mengatakan hasil asesmen menunjukkan anak masih mengalami tekanan psikologis. Kondisi tersebut menjadi perhatian pihaknya sehingga pendampingan akan terus dilakukan sesuai kebutuhan anak.
“Dari hasil pendalaman, anak mengalami trauma psikis. Anak juga menyampaikan tidak ingin kembali bersekolah di tempat semula dan ingin pindah sekolah,” kata Abi Fitriansyah.
Selain menyampaikan keinginan untuk pindah sekolah, anak juga mengungkapkan kekhawatiran ketika hendak beraktivitas di luar rumah. Anak merasa takut mendapat pertanyaan dari lingkungan sekitar maupun mengalami perundungan setelah persoalan tersebut ramai diperbincangkan.
Menurut Abi, situasi tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Anak membutuhkan lingkungan yang aman dan mendukung agar dapat menjalani aktivitas sehari-hari tanpa tekanan tambahan.
“Anak merasa takut keluar rumah karena khawatir ditanya-tanya dan dibully akibat pemberitaan yang viral. Karena itu, pendampingan psikologis perlu terus dilakukan agar kondisi psikologis anak dapat pulih,” ujarnya.
Dalam proses asesmen, UPTD PPA turut menggali keterangan anak mengenai peristiwa yang terjadi di lingkungan sekolah. Berdasarkan keterangan anak kepada pendamping, terdapat teguran lisan terkait penggunaan kaus kaki.
Anak juga menyampaikan adanya sentuhan pada bagian pipi yang dirasakannya seperti tamparan, tetapi tidak dilakukan dengan keras. Sementara itu, dalam asesmen tersebut, anak tidak menyampaikan adanya tindakan dijewer.





