LAMONGAN, BeritaSiber.com – Dugaan tindak kekerasan yang melibatkan seorang anggota TNI berinisial Serma MS terhadap M. Munir Thowil, Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Meluntur, menjadi perhatian serius di Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan. Gelombang solidaritas para guru pun mendapat ruang dalam pertemuan yang digelar di Pendopo Kecamatan Glagah, Rabu (21/10/2026).

Pertemuan tersebut mempertemukan unsur pemerintah kecamatan, TNI-Polri, serta para guru se-Kecamatan Glagah. Bukan sekadar forum silaturahmi, agenda ini menjadi ruang penyampaian aspirasi sekaligus upaya meredam ketegangan di tengah masyarakat setelah munculnya dugaan peristiwa yang menyita perhatian kalangan pendidik.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Di tengah dorongan agar suasana tetap kondusif, satu hal menjadi perhatian utama: penyelesaian persoalan harus tetap menghormati hak pihak yang merasa dirugikan dan berjalan sesuai mekanisme hukum yang berlaku.

Danramil Glagah Kapten Supriyadi menyampaikan penyesalan dan permohonan maaf kepada para guru yang hadir, terutama kepada M. Munir Thowil sebagai pihak yang diduga menjadi korban.

Supriyadi menegaskan bahwa perkara yang melibatkan anggotanya tidak diabaikan. Ia menyebut Serma MS masih menjalani proses penanganan melalui jalur hukum militer di Subdenpom Lamongan.

Menurutnya, komunikasi dengan pihak Munir telah diupayakan sejak awal kejadian. Bahkan, pihaknya mengaku pernah mendatangi kediaman Munir bersama kepala desa setempat sebelum persoalan tersebut berlanjut ke jalur hukum.

“Sebagai prajurit TNI, kami menyampaikan permohonan maaf dan penyesalan atas peristiwa ini. Anggota kami masih menjalani proses penanganan di Subdenpom Lamongan. Kami menghormati proses yang berjalan dan akan mempertanggungjawabkan persoalan ini sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa permohonan maaf dan upaya menjaga hubungan baik tidak serta-merta menggantikan proses hukum. Penanganan perkara tetap menjadi kewenangan institusi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku.

Camat Glagah, Misbahuddin, S.E., menyampaikan permohonan maaf kepada para tenaga pendidik atas peristiwa yang menimbulkan keprihatinan tersebut. Ia berharap persoalan ini tidak berkembang menjadi ketegangan berkepanjangan, melainkan disikapi melalui komunikasi terbuka dan sikap saling menghormati.

Menurut Misbahuddin, hubungan harmonis antara TNI dan para guru merupakan bagian penting dalam menjaga keamanan serta kepercayaan masyarakat.

“Melalui pertemuan di pendopo ini, kami berharap persoalan dapat disikapi dengan bijaksana, sehingga tercipta kedamaian dan hubungan baik antara TNI dan para guru. Kondusivitas wilayah merupakan tanggung jawab bersama yang harus kita bangun,” ungkapnya.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2