NUSANTARA, BeritaSiber.com – Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) memperkuat langkah pencegahan penyakit zoonosis serta kesiapsiagaan penyelamatan satwa dan hewan peliharaan di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi risiko kesehatan yang dapat muncul seiring perubahan lingkungan dan meningkatnya interaksi antara manusia, hewan, dan habitat alami.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Penguatan koordinasi tersebut dibahas dalam kegiatan Sosialisasi Zoonosis dan Animal Rescue yang diselenggarakan Otorita IKN di Gedung Kemenko 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara, Kalimantan Timur, Kamis (15/10/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Pembukaan Kongres ke-20 Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI).

Direktur Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan, Hendra Wibawa, yang hadir mewakili Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner I Ketut Wirata, menegaskan bahwa pencegahan zoonosis membutuhkan pendekatan terpadu yang melibatkan sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan pengelolaan lingkungan.

Pendekatan tersebut dikenal sebagai One Health atau Satu Kesehatan. Melalui pendekatan ini, berbagai potensi ancaman penyakit dapat diidentifikasi dengan mempertimbangkan keterkaitan antara manusia, hewan, dan lingkungan tempat keduanya hidup.

“Pencegahan zoonosis harus dimulai sejak dini. Perubahan lingkungan, termasuk kebakaran hutan, dapat meningkatkan interaksi antara satwa liar, hewan peliharaan, dan manusia. Karena itu, kita perlu memperkuat deteksi dini, pengawasan kesehatan hewan, serta kerja sama lintas sektor agar setiap potensi risiko dapat diantisipasi sebelum berdampak pada kesehatan masyarakat,” ujar Hendra.

Hendra menjelaskan bahwa perubahan kondisi habitat, termasuk akibat kebakaran hutan, dapat mendorong satwa liar berpindah ke wilayah lain untuk mencari tempat berlindung dan sumber makanan. Situasi tersebut berpotensi mempertemukan satwa liar dengan hewan peliharaan maupun manusia dalam ruang yang lebih dekat.

Interaksi yang meningkat perlu diantisipasi melalui pengawasan kesehatan hewan dan penilaian risiko yang tepat. Meski tidak setiap pertemuan antarsatwa dan manusia menyebabkan penularan penyakit, kewaspadaan tetap diperlukan untuk mengurangi kemungkinan munculnya risiko kesehatan.

Menurut Hendra, strategi pencegahan tidak dapat diterapkan secara seragam di setiap wilayah. Penilaian risiko perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan, karakteristik satwa, pola interaksi dengan manusia, serta kemampuan fasilitas kesehatan hewan dalam melakukan deteksi dan penanganan.

Untuk mendukung upaya tersebut, Kementan melalui Ditjen PKH mendorong penguatan surveilans kesehatan hewan, deteksi dini penyakit, pemeriksaan laboratorium veteriner, dan pemanfaatan sistem informasi. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu petugas mengenali indikasi ancaman lebih cepat sehingga langkah penanganan dapat dilakukan sesuai kebutuhan.

Selain pencegahan penyakit, kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat juga menjadi perhatian dalam pengembangan kawasan IKN. Penyelamatan satwa liar dan hewan peliharaan saat terjadi kebakaran atau gangguan lingkungan memerlukan prosedur yang jelas agar penanganan tidak menimbulkan risiko tambahan bagi hewan maupun manusia.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2